Jumat, 13 Juni 2014

Konflik yang terjadi di suatu perusahaan atau organisasi

A.   PERUSAHAAN
Saya pernah bekerja di sebuah taman rekreasi yaitu Taman Remaja Surabaya (TRS), saya bekerja sebagai karyawan.
Saya bekerja ditempat saya ini sudah sekitar 6 bulan, dalam perusahaan tempat saya bekerja ada 8 divisi untuk mempermudah dan memperlancar produktifitas pekerjaan.
Berikut adalah devisi-devisi di tempat saya bekerja.
1.    HRD
2.    Customer Service
3.   Operational FunFair
4.   Food and Beverages
5.    Finance Staff
6.    Cleaning Service
7.     Manager FunFair
8.    Marketing
Posisi saya di tempat saya bekerja adalah sebagai operational Funfair, tugas saya adalah sederhana yaitu mengoperasikan semua permainan yang ada di TRS, pada devisi ini ada sekita 18 staff termasuk saya, konflik yang akan saya ceritakan adalah hanya pada bagian devisi ini, yaitu divisi operational funfair.
B.   KONFLIK DEVISI OPERATIONAL FUN FAIR
Dalam organisasi tentu tidak akan luput dari konflik, baik itu konflik internal maupun eksternal dalam perusahaan, hal inilah yang juga seringkali saya alami, dalam perusahaan di tempat saya bekerja.
Konflik yang terjadi dalam divisi saya adalah konflik internal, khususnya dari para staf operasional dengan staf operasional lainnya, lebih tepatnya konflik ini terbangun karena sikap senioritas yang tinggi antara karyawan lama (staf operasional lama) pada staf operasioanl yang masih baru, salah satu contoh konflik yang seringkali tercipta adalah berbentuk komentar-komentar negatif terkait kinerja staf baru, seperti “mengoperasikan permainan A saja tidak bisa” padahal tugas staf lama juga mengajari staf yang baru. Hal ini akan biasa-biasa saja apabila komentar-komentar seperti itu dikatakan antar personal saja, dan diobrolkan baik-baik, yang jadi masalah adalah komentar-komentar seperti itu seringkali diucapkan ketika ada customer, sehingga membangun kesan bahwa staf yang sedang melayani customer terkesan kurang profesional, dan tidak tahu safety permainan.
C.   SOLUSI
Ketika seringkali saya mendapat perlakuan seperti itu, maka yang saya lakukan adalah membangun komunikasi yang lebih baik dengan karyawan yang memperlakukan saya seperti itu, saya mecoba memahami bahwa mungkin hal tersebut juga benar, atau karyawan senior ini ingin mengajari saya untuk mengoperasikan permainan yang lebih baik lagi, namun dengan cara didik yang salah, saya berpositif thinking saja.
Membangun komunikasi yang lebih baik yang saya maksud adalah dengan saya selalu mencoba mendekati karyawan ini, dan melihat cara dia mengoperasikan permainan ketika saya tidak sedang melayani customer, dan sembari saya bertanya-tanya untuk mencari perhatian dan untuk menciptakan image karyawan ini bahwa dia diakui sebagai staf senior, ternyata hal ini cukup ampuh untuk dijadikan solusi, meski harus menunggu beberapa bulan untuk mensetarakan status saya sebagai staf operasional dengan para staf yang lebih lama dengan saya.
Sekian konflik dalam perusahaan tempat saya bekerja, tentu dalam organisasi kita tidak hanya selalu menemukan konflik, hal lain yang juga jauh lebih bermanfaat seperti menambah ilmu, pengalaman, dan relasi juga akan kita dapatkan dalam organisasi. Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa adanya konflik dalam organisasi atau perusahaan bisa menjadi tolak ukur eksistensi perusahaan dalam bidang gerakknya dan profesionalitas karyawannya.
D.   KUTIPAN
Menurut pendekatan Stephen Robbins konflik yang saya alami termasuk jenis  Bahavioralist. Karena konflik yang terjadi merupakan peristiwa yang wajar dalam suatu organisasi. Pandangan ini juga menyatakan bahwa suatu konflik bermanfaat untuk meningkatkankan kinerja, menciptakan suatu inovasi. Sangat sesuai dengan apa yang terjadi pada saya, yang di tuntut untuk selalu bisa mengoperasikan semua fun fair yang ada di taman remaja surabaya agar customer lebih nyaman.


Tulisan ini merupakan tugas dari mata kuliah perilaku Organisasi, sebagai hasil dari diskusi bersama http://yuniawan.blog.unair.ac.id

Senin, 21 Februari 2011

sisi gelap pacaran

Sisi Gelap Pacaran

Hoyaaaa? lagi mojok berdua neh! He.he.. jangan mendelik dong kalo emang

ngelakuin. Bo..abo.. banyak juga neh remaja yang punya prinsip mojok

terus, gesek terus, en tempel terus ama gandengannya (idih, emangnya

truk?). Hmm? aneh bin ajaib memang. Urusan cinta yang diwujudkan lewat

pacaran kadang nggak kenal tempat dan waktu. Kalo udah demen, nyosor

terus ampe lupa kanan-kiri. Dunia serasa milik berdua doang. Orang lain

mah suruh tinggal di planet senen, eh, planet pluto sekalian.

Saking menjamurnya budaya pacaran, di angkot, di pasar, di kereta, di

bus, termasuk di sekolah, mudah kamu jumpai remaja yang saling memadu

kasih. Lihat juga di taman kota, di trotoar jalan, termasuk di perpus.

Perpus? Nggak salah? Suasananya hening lho buat mojok. Kali aja makin

hot! /Astaghfirullah?/

Udah gitu nggak kenal waktu, bisa siang hari, bisa malam hari. Pokoknya

gebet terus sampe pagi. Malam hari banyak juga lho yang sok romantis,

pake gantian ngitungin jumlah bintang di langit segala, ngobrol ngalor

ngidul di bawah sinar rembulan yang jatuh ke bumi, duh kayak di sinetron

jadinya (eh, pas meremas jari pacarnya, ternyata jempol semua! Bukan

orang kaliii.. Huhuy kebanyakan nonton Kismis tuh!) ?

Sobat muda muslim, ngomong-ngomong apa sih definisi pacaran? Kalo orang

hukum bilang, pacaran adalah kontrak sosial antara laki dan wanita dalam

satu ikatan dengan tujuan untuk menikah. Hmm.. bener nggak sih? Buktinya

banyak yang cuma main-main doang. Lha iya, anak SD dan SMP udah pacaran,

apa mereka mikir mo langsung nikah? Kayaknya, kata orang Betawi mah

kagaknyaket di otak dah!? Pendek kata, nggak masuk akal, sobat.

Sayangnya, pacaran udah jadi tren lho. Jangan kaget kalo ada remaja yang

nggak ngelakuin pacaran, bakalan dicap sebagai kampungan, norak, dan

super kuper. Sebaliknya, mereka yang jadian mengikat janji sama

pasangannya, dianggap wajar karena tuntutan jaman. Wasyah! Apa nggak

kuwalik neh?

Memangnya kalo jaman berubah, kita juga kudu selalu berubah? Nggak lha

yauw. Kita lihat-lihat dulu. Kalo itu berubah kepada kebenaran, ya kita

ikutin dong. Tapi kalo ngajak berubah untuk berani maksiat, entar dulu.

Tahan.

Ngomong-ngomong soal semen, eh, pacaran, kita jadi kepikiran, bener

nggak sih pacaran itu halal? Bener nggak sih pacaran itu banyak ruginya?

Emangnya kalo udah pacaran kita boleh ngelakuin apa aja dengan pacar kita?

*Ta`aruf, Taqarrub, dan ta` tubruk*

Remaja sekarang pada pinter ngeles lho.. (yang pinter mah..), pake

ngedalil segala. Seolah-olah bakal ditolerir agama dengan dalilnya yang

asal-asalan itu. Nggak lha yauw. Saat kamu membanting kartu gaple dengan

balak enam sambil menyebutkan, ?ini rukun iman?, tentunya bukan berarti

main gaple jadi kegiatan yang islami lho. Nggak. Begitu pun dengan

pacaran. Jangan mentang-mentang aman aja lho kalo kamu berdalih bahwa

deketan sama lawan jenis sebagai bagian dari ta`aruf yang diajarkan agama

sambil menyitir ayat tentang diciptakannya manusia dalam kultur dan suku

yang berbeda-beda, yang tiada lain adalah untuk saling mengenal. Gubrak!

Jelas salah alamat sobat. Kamu yang pacaran dengan mengaku-ngaku lagi

Taa`ruf kayaknya cuma kedok doang deh. Memangnya kalo pengen kenalan

dengan lawan jenis itu kudu nempel terus dan berduaan aja?

Ada teman kamu yang ngelakuin pacaran kok kayaknya seperti udah jadi

suami-istri. Nyebutnya aja ?mamah-papa?. Itu dilakukan demi mengenal

lebih dalam karakter masing-masing. Kata mereka, dengan semakin dekat

kita berhubungan, semakin mengetahui kebiasaan pasangannya; mudah marah

apa nggak, suka rewel atau justru asyik-asyik aja, kalo makan gembul apa

nggak (harus bisa mengontrol jatah beras neh! He..he..he..), kita jadi

tahu makanan kesukaannya, ngeh minuman favoritnya, dan sebagainya.

Nah, kalo udah cukup kenal luar-dalam, bisa jadi gampang juga untuk

deketan. Pengen lebih deket, makin deket, dan deket banget. Nggak heran,

awalnya cuma mau temenen, eh, malah demen? Kalo udah kecantol begitu,

setiap pasangan jadi nggak ragu untuk membuka diri. Hmm? jangan kaget

kalo akhirnya nggak cuma berani kirim SMS or e-mail dong, tapi mulai

coba dengan yang lebih interaktif; nelpon. Bagi mereka yang udah kebelet

(emangnya mo buang hajat?), pengennya deketan terus. Dalam kondisi

seperti itu, udah berani main ke rumah atau ngajak jalan bareng ke mana

mereka suka. Sebab kata orang, cinta terasa makin kuat justru kalo

berjauhan. Sebuah kenyataan yang bertolak belakang dengan efek doppler

yang justru kekuatannya makin terasa lemah jika saling menjauh (moga

kamu inget salah satu kajian dalam ilmu fisika ini).

Sobat muda muslim, hati-hati deh. Kalo udah taa`ruf dan pengennya

Taqarrub,sangat boleh jadi akhir nyata tubruk alias main nyosor

terus. Pikirnya, mana ada kucing yang tahan jika mangsanya ngasih

peluang. Mana ada yang tahan godaan kalo udah lengket-masket begitu.

Bener, pake prinsip manajemen lagi; sedikit bicara banyak bekerja. Nggak

ada jaminan deh kalo udah nempel begitu tanganmu nggak gerilya

kemana-mana. Yee.. jadinya antara nafsu dan cinta jadi bias. Gubrak, itu

namanya peluang untuk saling ?menubruk? makin terbuka. Jadi jangan

bingung kalo kemudian kamu bisa baca di koran tentang seks bebas remaja

ibu kota, juga tentang angka aborsi yang kian meroket, dan menularnya

PMS (penyakit menular seksual). Hih, syerem abis!

*Ruginya pacaran*

Kamu kudu ngeh juga soal yang satu ini. Rugi di akhirat udah jelas. Rugi

di dunia juga sebetulnya sejelas siang hari. Cuma, bisa dinetralisir

dengan kenikmatan yang langsung didapat. Dasar! Pengen tahu lebih

detil? Mari kita tunjukkan.

*Pertama,* pacaran diduga kuat bikin kantong bolong (biasanya untuk anak

cowok). Gimana nggak, kamu jadi kudu nyiapin anggaran lebih; selain buat

diri kamu, tentunya biar disebut care ama yayang-nya, kalo jalan kudu

punya pegangan. Malu dong kalo jalan nggak punya duit. Entar diledekin

pake plesetan dari lagunya Bang Iwan Fals, ?Jalan bergandengan tak

pernah jajan-jajan?? (he..he..). Itu sebabnya, anak cowok kudu nyiapin

segalanya buat nyenengin sang pacar. Iya dong, masak makan sendirian

kalo lagi jalan bareng? Emangnya pacar kamu obat nyamuk dianggurin aja?

So, pastinya kamu bakalan kena ?roaming? terus (backsound: rugi dah gua..).

Tapi jangan salah lho, bisa jadi anak cewek juga kudu nyiapin dana (kalo

nggak minta ke ortu nodong sama pacarnya?he..he.. teman cowoknya kena

juga deh). Buat apa? Huh, tanpa komunikasi, rasanya dunia ini sepi, bro!

buat beli pulsa HP, terus sekarang kan jamannya internet, ya untuk

chatting atau kirim-kirim e-mail cinta. Huh! Pacaran berat diongkos

namanya. Bener-benar terpadu, alias terpaksa pake duit!

*Kedua,* bisa kehilangan privasi lho. Iya lah, kamu baru bisa nyadar

kalo kamu udah putus sama yayang kamu. Betapa kamu waktu itu udah

memberikan informasi apapun sama kekasihmu. Rahasia luar-dalam dirimu

bisa kebongkar tanpa sadar. Celakanya, banyak pasangan yang akhirnya

putus. Nggak ada jaminan kan kalo akhirnya pacarmu cerita sama yang lain

setelah putus sama kamu? Atau? bisa juga putus sama kamu karena udah

tahu kebiasaan jelek kamu (koor: kasihan deh eluh!..)

*Ketiga,* menggangu aktivitas produktif. Iya lah. Sebab, pikiran kamu

manteng terus ke si dia. Inget terus sama doi. Maklumlah, bagi kamu yang

kena sihir kasmaran, pastinya inget terus sama doi. Kayaknya nggak

rela kalo sehari aja nggak ketemu or denger suaranya. Nggak afdol kalo

tiap jam nggak dapetin update info soal doi (emangnya situs berita?

He..he?). Persis kayak pelajar yang saban harinya makan sambel melulu,

katanya sih bisa bodoh. Lho? Iya, kalo kerjaan makan sambel itu

membuat doi lupa belajar (he..he..he..). Nah, pacaran disinyalir bisa

membunuh produktivitas kamu. Hari libur joss terus sama pacar kamu; ke

tempat rekreasi, ke mall, dan sekadar jalan-jalan nggak jelas

juntrungannya. Padahal, bisa dipake untuk istirahat or kegiatan

bermanfaat seperti olahraga, ngelancarin belajar ngaji, menghadiri

kajian keislaman, dsb. Tul nggak?

Padahal hari biasa juga dipake ngedate terus sama gebetan kamu. Kagak

ada matinya. Jadi produktivitasnya berubah. Tadinya mantengin pelajaran

dan kegiatan bermanfaat lain, pas pacaran jadi mantengin yayang-nya.

Apa itu nggak bikin kamu jadi kismin, eh, miskin produktivitas? Aduh,

celaka banget deh!

*Keempat, *rentan untuk sakit hati. Bener. Kegembiraan bisa berubah jadi

kesedihan. Maklum, namanya juga baru pacar, belum ada ikatan kuat yang

bisa melindungi kamu berdua. Jadinya, gampang banget untuk putus. Cuma

soal perbedaan kecil bisa jadi api yang membara. Ujungnya, putus deh.

Kalo udah putus cinta, aduh, sakit rasanya. Bener. Perlu kamu pahami,

kebanyakan orang berpacaran adalah mencari petualangan. Jadi, bukan untukmelanggengkan ikatan itu, tapi justru masih cari-cari kecocokan. Bahaya!

*Kelima,* jangan bangga dulu punya pacar yang tampilannya oke punya.

Senyuman mautnya bisa menenangkan kamu, sekaligus bikin gelisah. Siapa

sudi kalo punya cowok mata keranjang? Nggak bisa teteg di satu hati.

Masih nyari penyegaran dengan akhwat, eh, cewek lain. Siapa tahu malah

kamu yang jadi sephia-nya. Cewek lain justru kekasih sejatinya.

Gubrag! (suara satu-suara dua: kasihaaan deh kamu?).

*Keenam,* beware alias waspadalah! Kejahatan terjadi bukan karena niat

pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan (hei! kok kayak Bang

Napi sih? He..he..he.). Gaul bebas bisa bablas euy! Kalo kamu udah

saling lengket, jangan harap akal sehat kamu dipake untuk mikir bener.

Justru kamu malah bimbang dengan suara-suara yang ngomporin supaya

melakukan ?begituan?. Pastinya kamu nggak mau dong kayak kasusnya Eno

Lerian yang menikah karena udah hamil duluan; /Married by Accident!

Naudzubillahi min dzalik!/

*Tahan nafsu dong...!*

Ingat-ingat pesan Allah dan Rasul-Nya. Jangan mengklaim kebenaran dengan

ukuran kamu sendiri. Bahaya. Kamu bisa aja ngasih alasan bahwa pacaran

adalah menyenangkan. Itu hak kamu. Tapi jangan salah, kalo kebenaran

diserahkan kepada semua orang, bisa berabe. Itu sebabnya kudu ada

patokan. Apalagi kalo bukan aturan Allah dan Rasul-Nya. Betul? /?Dan

janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan

yang tercela dan jalan yang buruk,? /*(QS al-Isra [17]: 32)*

Dari Jabir ra, Rasulullah saw. berkata, /?Ingatlah! Janganlah seorang

laki-laki menginap di sisi seorang wanita dalam satu rumah, kecuali dia

menikahinya atau dia mahramnya.?/ *(HR Muslim)*

Dalam sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di

dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi Saw. bersabda:?Semalam aku bermimpi

didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi

bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku

api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan

api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki

dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas

hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk

ke dalam tungku. Aku bertanya: ?Siapakah mereka itu?? Keduanya menjawab:

?Mereka adalah orang-orang yang berzina.? Ih, naudzubillahi min dzalik.

Jadi udah deh, pacaran itu nggak ada untungnya. Banyak sisi gelapnya.

Rugi dunia-akhirat lagi. Kalo pun menurut kamu ada untungnya, itu kan

baru perasaan kamu aja. Betul? Oke deh, kalo pun itu menyenangkan

menurutmu, apa ada jaminan kalo aktivitas kamu bebas dari dosa? Justru,

pacaran itu menyenangkan atau tidak menyenangkan buat kamu, tetep aja

haram di mata syariat! Jadi, jangan nekatz berbuat dosa.

Waspadalah!!! 3 x

Waspadalah!!! 3 x

Waspadalah!!! 3 x

Waspadalah!!! 3 x